Minggu, 12 April 2009

13 April,.

Taburan bintang gemerlap bagaikan ribuan kunang-kunang

Cengkraman kesejukan malam menusuk masuk menyentuh tulang

Tarian mesra sang rembulan elok menghiasi malam penuh keindahan

Terangi hati kita semua tepat di malam hari ulang tahunmu

Satu tahun tambah usiamu, semoga lebih mendewasakan dirimu

Gepakkan sayapmu terjanglah angkuhnya deras arus kehidupan

Perjalananmu masihlah panjang tuk menggapai semua tujuan

Tiada terkira bahagiaku terlahir dengan adik semanis dirimu

Harapan bukan harapan, namun impianku hanyalah inginkan bahagiamu

Sepanjang langkah mungilmu terayun, syarat terlantun dukungan ayah & ibu

Ingatlah bahwa kami sangat nantikan goresan pena kebahagiaanmu terukir abadi

Teruslah berkibar adikku, tunjukkan pada kami bahwa kamu mampu

Sabtu, 04 April 2009

The history of Gontor Lama

Gontor is a place located approximately 3 KM east of Tegalsari and 11 KM to the southeast of the city Ponorogo. At that time Gontor is still a forest area that has not been a lot of people were. Moreover, this forest is known as "hiding the marauder, brigand, bandit, drunkard, etc.”

This is where young Kyai Sulaiman Jamaluddin whose given by law to pioneer Tegalsari pondok pesantren like. With a 40 santri brough by Kyai Caliph to him, the group of them are Gone to the village to establish Pondok Pesantren in the village Gontor.
Pondok Gontor founded by Kyai Sulaiman Jamaluddin is growing rapidly, especially when led by the son he named Kyai Archam Anom Besari. Their students (santri) came from various regions in Java, it seems that many also come from santri Pasundan area in West Java. After Kyai Archam died, hut followed by his son called Santoso Anom Besari. Kyai Santoso is a third generation of the founders of Gontor Lama. On this third generation of leadership old Gontor (Gontor Lama) began receding; education and teaching activities in boarding start fade. Among the decreased is because of lack of attention to the regeneration.
Number of santri only a few and they learn in a small mosque, which is no longer as many times before. Although Pondok Gontor is not as advanced at the time of her grandmother and father, Kyai Santoso still bent on enforcing religious Gontor village. He remained a prominent figure and a reference in the various religious and social issues in the village and the surrounding Gontor. In the age that has not been so advanced, Kyai Santoso called on Allah SWT. When Kyai Santoso death, the heyday Gontor Lama truly gone or missed. Brothers Kyai Santoso no longer affords to replace it to maintain the existence of Gontor. Nyai Santoso but apparently does not want to see Pondok Gontor ended and disappeared swallowed history. He works hard educated son and daughter to be able to continue the struggle grandmother’s heritage, the Gontor revive the dead. Nyai Santoso herself then entered three of her sons to some boarding and other educational institutions to have a religion. They are Ahmad Sahal, Zainuddin Fannani, and Imam Zarkasyi. Unfortunately, the high-minded mother who had never witnessed this resurrection Gontor back in the hands of the third from her son. He died while three of her sons still in study.
Kyai Santoso Anom Besari died and fall in line with the triumph of Gontor Lama, Gontor village and the surrounding areas appear to be obedient before starting to lose grip. They turned into people who leave the religion, and even anti-religious. Life of mo-Limo (5M of bad habits): maling (steal), madon (sex abuse), mendem (suck drag), minum (drunk), and maen (gamble) has become a daily habit. This added to the influenced by gemblakan (fight) tradition among the warok (stronger person in village).
Thus tradition and atmosphere of a society and its surroundings Gontor after loosed heyday of Gontor Lama.

(i've came to support my assignment)

Kamis, 19 Maret 2009

perjuangan

hidup adalah perjuangan
dalam perjuangan umur hanyalah pergantian angka
dalam perjuangan lahan tuk berjuang yang utama
dalam perjuangan halang dan rintang harus di buang

dalam perjuangan kebahagian bukan prosesnya

dalam perjuangan kesulitan bumbu penyedapnya
dalam perjuangan jengkalan langkah bermanfaah
dalam perjuangan tidak mengenal kata lelah

dalam perjuangan ridlo Nya menjadi tujuan

dalam perjuangan tak terikatan masa

seorang pejuang hendaklah mengerti arti perjuangan

Minggu, 15 Maret 2009

Titip rindu buat Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras

Namun kau tetap tabah

Meski nafasmu kadang tersengal

Memikul beban yang makin syarat

Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari

Kini kurus dan terbungkuk

Namun semangat tak pernah pudar

Meski langkahmu kadang gemetar

Kau tetap setia

Ayah,..dalam hening sepi ku rindu

Untuk menemani hari-hari tuamu di rumah kita

Tapi kerinduan masih hanya kerinduan

Anakmu sekarang masih banyak menanggung beban

Hidupku adalah sejarah, maka ku berusaha ukir seindahnya

Hidupku adalah anugerah, maka ku syukuri sebaik-baiknya

Hidupku adalah pengharapan, maka ku ingin wujudkan kenyataannya

Hidupku adalah perjuangan, maka ku pegang teguh tuntunan Nya

Senin, 09 Maret 2009

renungku,..

Kalau aku boleh memilih, mungkin bukan jalan ini yang kan aku pilih

Seandainya Dia berikan aku pilihan, belum tentu aku bisa menerima pilihan Nya

Karena sebenarnya bukan aku yang berhak memilih

Dan pilihan bukanlah sebuah harapan atau nasib dalam kehidupan

Dimana aku hanya mampu tuk memohon dan lagi memohon

Selanjutnya berusaha menjalani semua ketetapan Nya dengan pengabdian

Selamanya Dia sang Maha pengasih dan Penyayang hamba Nya

Pastilah merencanakan yang terbaik bagi hamba yang memohon pada Nya

petuah

Jangan terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang telah di janjikan Allah pada mu,.
sehingga engkau lupa atas apa-apa yang telah di bebankan Allah atas mu,.

Ibn Attho'illah al-Asykandari