Jumat, 07 Mei 2010

sMi........

Satu lagi sejarah terukir, Arogansi bangsa kita yang sangat tidak rational dan sulit untuk di terima secara kasat mata serta kini harus mendapatkan tamparan luar biasa dari pihak asing. Dimana ibu Sri Mulyani Indrawati yang konon kata salah seorang dosen pasca sarjana di kampusku selalu di ceritakan sebagai sosok yang briliant namun tetap humble, bahkan dosen tersebut selalu menambahkan "Indonesia should be proud having Sri Mulyani and her contribution, i know her exactly how good she is..." namun disana teramat banyak orang yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa duduk permasalahannya serta merta mencaci maki, menyumpah serapah bahkan anarkhis membakar poster-poster Sri Mulyani.
Tapi kini semua itu nyata adanya, dimana Word Bank meminangnya sebagai vise directur dan nampaklah sudah kalau kehadirannya lebih di minati dunia International ketimbang perjuangannya di negaranya sendiri, teramat mahal harga seorang pejuang sejati dimana dia telah bekerja sepenuh hati sehabis tenaga namun bukanlah penghormatan ataupun terimakasih yang dia dapatkan malah cacian karena silau dengan hasutan oknum-oknum yang menyalahkan beliau.

Kamis, 15 April 2010

Pelajaran apa yang bisa kita ambil disini?

Kembali sejarah menulis, sebuah tragedy berdarah di Tanjung Priok dimana segerombolan orang berseragam ke hijau-hijauan dengan dalih menjalankan tugas harus bentrok dengan warga sipil yang merasa bertanggung jawab atas tanah makam leluhur mereka, sekaligus makam orang yang mereka yakini telah membawa misi suci keislaman di belahan utara Jakarta tepatnya di Koja, Tanjung Priok.
Banyak misteri dalam diri masing-masing orang menanggapi kejadian tersebut. Tragis, itulah ungkapan yang tepat bagi orang yang memang menginginkan bangsa ini penuh kedamaian tanpa ada permasalah yang harus di selesaikan dengan kekerasan dan semua pihak dapat lebih mengerti serta menjunjung tinggi sikap saling menghargai dengan mencapai mufakat sebelum akhirnya mengambil sikap. Puas, mungkin inilah perasaan oknum-oknum manapun yang sangat mengedapankan ego dan keangkuhan, sebagian mungkin akan merasa puas ketika menyaksikan keangkuhan aparat penegak hukum di rendahkan masyarakat, merasa menang bisa melawan pemerintah yang mungkin dimatanya senantiasa salah, bangga bisa menghakimi pengemban-pengemban tugas mulia mewujudkan keadilan di negeri kita tercinta, bahkan mungkin teramat puas bagi oknum ‘bejat’ dalam mengadu domba serta menciptakan kekacauan seperti yang dia harapkan pada asalnya. Selanjutnya adalah prihatin, itulah ungkapan bagi orang yang menyayangkan kejadian anarkhis tersebut, kenapa harus terjadi, dimana semua media mempertontonkan kepada seluruh jajaran masyarakat tindakan tersebut, mengajarkan warga lainnya dengan provokasi bahwa petugas bisa di lawan dan mereka hanyalah bawahan yang tidak berarti tanpa perintah atasan, dengan inikah kita akan mengajarkan kepada generasi muda nantinya?. Akankah kita bercerita akan kemenangan people power serta ketidak berdayaan hukum menyentuh kekuatan massa, ataukah kita akan terus wariskan kebencian atas para penegak hukum kepada anak cucu nantinya?. Tidak, bukan itu jawabannya karena bagaimanapun negeri kita adalah Negara hukum, dimana hukum harus di junjung tinggi. Negara kita adalah negara demokrasi dalam arti yang sebenar-benarnya, dimana rakyat harus di utamakan dan tidak boleh di semena-menakan oleh kepentingan pihak tertentu.
Dua puluh enam tahun silam, tepatnya di tahun 1984 banjir darah telah terjadi di Tanjung Priok, dimana ratusan nyawa tidak berdosa yang tengah mengumandangkan takbir setelah pengajian di lapangan terbuka harus ter-eksekusi oleh keganasan rezim orde baru masa itu, terngiang masih betapa kebencian masyarakat atas keganasan aparat yang mungkin telah menghilangkan bagian dari keluarga mereka, sehingga menjadikan ratusan anak menjadi yatim, perempuan-perempuan menjadi janda tanpa pernah tahu dimana kubur suami mereka, apakah hal serupa harus terjadi sekarang di Tanjung Priok.
Sekarang tragedy itu pun telah terjadi lagi, ironisnya kembali orang-orang suruhan dan pasukan bayaran yang harus berhadapan dengan warga sipil sedangkan atasan mereka sebagai pemegang kendali dan tongkang instruksi tanpa pernah tersentuh sama sekali. Secara institusi mungkin kita bisa katakana, bahwa setelah institusi kepolisian habis di ‘telanjangi’ bahkan nyaris kehilangan harga diri di mata masyarakat, kini tinggal pasukan lini depan pemerintah daerah dalam penertiban dan penjagaan kenyamanan kota pun harus mengalami hal serupa, dimana-mana orang akan mengkritisi bahkan berteriak untuk membubarkan kesatuan satuan polisi pamong praja dengan dalih arogansi dan ketidak bersahabatan mereka dengan masyarakat yang harusnya mereka layani. Inilah wajah penegakkan hukum di negeri yang sama-sama kita cintai ini, apalah jadinya seandainya negara berdiri tanpa ada perlindungan dari para penegak-penegak hukum yang baik, ataukah kita harus katakan tidak adakah lagi para penegak hukum dari polisi dan pamong praja yang layak untuk tidak di gelari oknum? Kalau memang seperti itu adanya, pelajaran apa yang sebaiknya kita sajikan kepada generasi-generasi kita nantinya.

Senin, 08 Maret 2010

Mengenang Sang Mushashi

Pernah mendengar cerita tentang Mushasi? Dia adalah seorang Samurai yang berasal dari Jepang. Aku pernah mendengar tentang Mushashi itu dua kali. Pertama di internet, kedua dari cerita seorang kenalan yang baru saja meraih semua yang beliau impikan: “Menjadi Professor di usia muda!”
Beberapa waktu lalu, di sebuah pengajian plus perayaan ulang tahun pernikahan seorang teman dan juga ulang tahun anak nya. Ada satu hal yang membuat kami bersemangat untuk hadir dalam acara itu. Bukan makan-makannya tentu karena itu sudah pasti akan selalu membuat kami bersemangat. Tapi karena akan ada “tausyiah” dari seorang kawan atau yang lebih tepat disebut senior yang bernama Dr. Wahyudi Martono. Dia baru saja diangkat sebagai professor. Tak lama sebelum itu ia juga dilantik menjadi Head of Mechatronic Engineering di kampusnya. Sebuah karir yang menakjubkan untuk usianya yang belum mencapai 40 tahun.
Ternyata benar. Prof. Yudi, demikian kemudian kami memanggilnya setelah itu, berbagi pengalaman dengan kami tentang bagaimana membagi waktu untuk meraih cita-cita. Pertama-tama ia bercerita mengenai kondisinya ketika baru lulus dari S1 di ITB. Saat itu ia bingung, apakah akan menggeluti bidang agama dikarenakan selama kuliah ia adalah aktivis di mesjid Salman ITB, atau fokus pada bidang yang sudah ia geluti sekarang yaitu “engineering”.
Setelah itulah Prof. Yudi menceritakan tentang Mushashi. Mushashi adalah seseorang yang berjuang di jalan yang disebut jalan pedang untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi hingga setingkat dengan spiritual seorang pendeta yang tak lain adalah gurunya sendiri. Termotivasi dengan Mushasi, Prof. Yudi pun memutuskan untuk fokus pada bidang engineering dan mengikuti jalan pedang Mushashi, tentu saja bukan degan pedang dalam arti sesungguhnya tapi dengan menjadi ahli pada bidang yang ia geluti. Dengan harapan, ketika ia telah mencapai puncak keilmuannya, maka spiritual ia pun akan terasah pasti seperti yang dialami oleh Mushashi.
Prof. Yudi kemudian juga bercerita mengenai bagaimana mengatur waktu dan target. Ia menyampaikan itu seraya bercerita mengenai Rasulullah Muhammad S.A.W. Menurut beliau, ada hikmah yang dapat ditarik dari “life span” Rasulullah S.A.W dimana pada usia 25 tahun beliau menikah dan pada usia 40 tahun beliau menjadi rasul. Prof Yudi mengibaratkan, sampai usia 25 kita bisa fokus pada pengembangan diri kita sendiri. Usia 25 sampai 40 mungkin kita bisa fokus pada keluarga dan karir, setelah usia 40 adalah titik dimana kita bisa lebih memfokuskan hidup kita untuk orang lain dan untuk umat!
“Hmmm… analogi yang sangat menarik” pikirku.
Mungkin Prof. Yudi betul-betul termotivasi dengan Mushashi. Dan dalam mencapai jalan pedangnya dan mengikuti betul pola pengaturan waktu Rasulullah S.A.W. Tentu saja dia tidak menjadi nabi dan rasul. Tapi dia menjadi Professor. Tingkat tertinggi dari seorang akademisi. “Ya Professor adalah tingkat tertinggi dari seorang akademisi, bukan Rektor!” Begitu tegas Prof. Yudi.

Tapi sekian hari yang lalu kabar duka terdengar dari seorang teman. Prof Yudi masuk ICU! Hanya 25% dari paru-parunya yang berfungsi. Berbondong-bondong kami semua menjenguknya di Hospital tapi hanya di izinkan melihat sebentar saja itupun dari luar saja. Subhanallah, seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Dan memang hal itulah yang terjadi. Jika ini yang terjadi pada diri kami mungkin sudah pingsan dan menangis meraung-raung. Tapi tidak dengan istri Prof Yudi dan anak-anak beliau. Senyumnya masih tetap mengambang seperti biasa, dan ia masih bisa bercanda selayaknya kondisi normal yang terjadi dihadapannya.
“Sepertinya memang syukur dan sabar sudah mendarah daging dalam keluarga Prof. Yudi” pikir ku.
Kemudian ke-esokan harinya ketika terbangun pada pukul 5 pagi aku menerima sms bahwasanya Prof Yudi meninggal dunia pukul 2 tadi malam.
Setelah itu seolah pikiran ku sama dengan teman-teman mahasiswa lainnya “Mengapa Kau panggil Prof. Yudi begitu cepat ya Allah, disaat ia baru saja mencapai apa yang ia inginkan? Apabila aku juga mencapai apa yang aku mau, apa kah Engkau juga akan memanggil ku ya Allah? Lalu untuk apa semua hidup ku ini jika begitu?”
Secara teori mungkin kita sudah tau jawaban dari pertanyaan teman-temanku itu. Tapi dihati, itu masalahnya! Ada saat dimana kita tidak bisa menerima kenyataan, dan itulah yang terjadi saat itu pada kami semua yang tengah mengejar cita-cita.
“Engkau hidup hanya untuk Allah, dan hidup hanya lah sementara” Lakukan lah semua yang kau ingin kan di dalam hidupmu, tapi lakukan lah itu hanya untuk Nya”
Ya, kurang lebih itulah jawaban dari renungan temanku saat itu. Dan aku yakin itu semua telah dilakukan oleh Prof. Yudi, Sang Mushashi. Ia belajar, terus belajar! Ia berkarya, terus berkarya! Karyanya telah ia sampaikan pada semua murid-muridnya dan pada semua manusia dalam jurnal-jurnal ilmiahnya. Dan ia lakukan semua untuk Allah, melalui jalan pedang akademisnya.
Seperti sang Mushashi, ia telah mencapai tingkat spiritual tertinggi. Selain itu, walaupun tidak menjadi rasul dan tentu tidak ada satupun diantara kita yang akan menjadi rasul, tapi Prof Yudi telah mencapai status tertinggi dalam posisi akademis yaitu Professor di usia lebih muda setengah tahun dari Rasulullah S.A.W. ketika diangkat menjadi Rasul. Targetnya yang ia cita-citakan itu telah tercapai, dan tentu saja semua karena Allah. Hal itu terlihat jelas dalam kehidupan sehari-harinya yang sangat rendah hati dan tawadhu.
“Ya, Prof, kami hanya bisa mengantarkan mu ke bandara menuju tempat istirahat terakhirmu”. Terbesit dalam hati kami seraya terbayang bayangan Prof. Yudi tersebut. “wahai Sang Mushashi, di tanganmu lah telah lahir semangat Mushashi-Mushashi baru yang akan berjuang di jalan mu, di jalan pedang, tidak hanya seperti Mushashi, tapi seperti Umar bin Khatab, seperti Ali bin Abi Thalib, seperti Khalid bin Walid. Berjuang di jalan Allah, melalui pedang akademis seperti yang telah dilakukan oleh Ibnu Sina, Al Khawarizm, Al Jabar, dan seperti banyak ilmuwan Islam lainnya” temanku berkata lagi.
Begitulah Prof Yudi, kami semua tahu keluarga mu pasti bersyukur memiliki anak, suami, dan bapak sepertimu. Karena kami juga bangga mempunyai kenalan seperti mu. Dan kami yakin keluarga mu juga sabar melepas kepergian mu. Karena engkau juga telah menanamkan rasa syukur dan sabar pada hati mereka sama seperti yang telah engkau sampaikan pada kami semua.
Saat ini hanya satu kata yang bisa terucap, Selamat jalan Sang Mushashi, izinkan kami melanjutkan jalan pedang mu…

Senin, 25 Januari 2010

"Tidak ada dalam aturan Islam merubah keadaan masyarakat dengan cara bergerombol-gerombol, berteriak-teriak dan demonstrasi (unjuk rasa). Islam mengajarkan ketenangan, dengan mengajarkan ilmu di kalangan kaum muslimin serta mendidik mereka di atas syariat Islam sampai berhasil, walaupun harus dengan waktu yang sangat panjang."
Jadi memang solusinya lewat pendidikan dalam arti luas (lewat keluarga, sekolah, majlis ta'lim, halaqoh kampus, media massa, workshop, publikasi, et cetera .....)


-Syeikh Al-Bani-

Jumat, 16 Oktober 2009

Tahukah Engkau Sebuah Bangsa yang Besar yang Bernama Indonesia

Saudaraku, tahukan engkau bahwa jika engkau memilih secara acak sepuluh manusia indonesia, maka akan kau dapati sembilan orang diantaranya berkata:
'Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya'

Kawan, tahukah engkau bahwa jika engkau mengundi seratus nama dari korban tsunami aceh, gempa jogja, dan gempa jawa barat,
engkau dapati kecuali satu semua disholati

Kawan, tahukau engkau jika engkau melihat di hari berbangkit seribu korban gempa sumatra,
tidak ada yang diangkat karena nyanyian 'rasa sayange' yang mereka pelajari dari kawan2 mereka di timur, melainkan karena bacaan quraan
tidak ada yang dapat menapak dengan tarian2 bali, melainkan telah lewat perhitungan sujud
tidak ada diantara mereka yang dibangkitkan bertutup batik, melainkan seperti penciptaan mereka yang awal

Indonesia bangsa yang mulia kawan,
maju dalam budaya, keluhuran budi, dan sesak oleh manusia cendekia
Indonesia tanah yang kaya,
berlimpah akan emas, hasil tambang, dan unsur hara
Angkasanya diarungi burung2 dari empat benua
Laut indonesia adalah lautan zamrud dan mutiara

Tahukah engkau bahwa budaya, keluhuran budi, dan kecendekiaan tidak tumbuh dari pengakuan UNESCO atau devisa ekspor
dan tidaklah akan akan habis karena kita berbagi.
Tapi niscaya binasa karena dengki, pikiran sempit, dan 'human trafficking' berlabel "beasiswa di negara maju"
tahukah siapa yang menikmati kekayaan alam kita selama beratus-ratus tahun hingga kini?
tahukah siapa yang menjarah kekayaan laut kita dengan kapal2 raksasa dan mencemarinya dengan limbah berbahaya?

Kita tidak akan jatuh miskin dan terhina karena berbagi
tapi karena sempitnya hati, kerdilnya jiwa, dan menyelisihi siratan sawiyya

Tahukah engkau kawan, jika sepuluh potong hati saudara2mu yang kau anggap maling dibelah,
maka hanya satu orang pandir yang bangga, disanjung sebagai penyanyi rasa sayange, yang dibawa oleh nenek moyangnya
atau si jahil yang merasa terhormat dipuji sebagai penari liukan2 penyembahan berhala
hanyalah si congkak terhina karena kain batik
terlebih dahulu diakui oleh kumpulan manusia2 pemecah-belah silaturrahim sebagai mahakarya saudaranya di jawa
tanah awal corak batik dibawa oleh saudagar2 china

Tapi tahukah engkau kawan, berapa banyak diantara mereka yang berbagi duka dengan sahabat2 mereka diaceh
atau kehilangan atas musibah yang menimpa keturunan leluhur mereka di jogja atau sepupu-sepupu mereka di sumatra

Indonesia bangsa yang besar kawan,
digdaya dalam seni, akal budi, dan hati nurani
Indonesia tanah yang murah hati,
penuh dengan hasil bumi,variasi nabati, intan dan permata
Laut indonesia diselami penghuni dua samudera
Angkasanya adalah lautan hujan dan cahaya

Jika kita bersyukur, aku percaya Allah akan menjadikan kita mercusuar bernama benua nusantara
atau akankah dimasa mendatang manusia akan bertanya
"tahukah engkau dahulu ada sebuah bangsa yang besar yang bernama indonesia"

Kamis, 20 Agustus 2009

Andai ini Ramadhan terakhirku

"Satu tahun sudah berlalu
Bergunung dosa telah terkumpul di sepanjang waktu
Hingga tidak terasa Ramadhan begitu cepat mengunjungiku"

Andai ini Ramdhan terakhir

Apakah Ramadhan ini mampu menghapus dosa-dosa ku.
Telah mengunung catatan dosa-dosa ku sehingga membuat seolah Kau jauh dariku….
Dosa telah membutakan mataku karena terlalu banyak ku fungsikan untuk melihat sesuatu yang hanya bisa memuaskan nafsuku.
Dosa telah menyumbat telingaku karena telingaku hanya ku gunakan untuk mendengar hal-hal yang hanya untuk menghibur sesat hatiku.
Dosa telah menyumpal mulutku karena setiap waktu mulutku hanya ku manfaatkan untuk menyakiti-Mu demi kepentingan egoku.
Dosa telah menghilangkan kepekaan lidahku karena hanya ku tugaskan menikmati makan dan minum yang jauh dari syariat-Mu.

Andai ini Ramadhan terakhirku

Apakah Ramadhan ini mampu menambah pahalaku.
Telah banyak waktu ku sia-siakan hanya mendapatkan sesuatu yang membuat aku mengabaikan- Mu...
Aku telah hilangkan kepedulianku terhadap sesama hamba-Mu atas nama kepentingan pribadi dan kelompokku.
Aku telah kandaskan rasa kasih sayangku terhadap saudara-saudaraku yang ditimpa musibah hanya untuk mengeruk rupiah menjadi milikku.
Aku telah musnahkan kepekaan terhadap sesamaku dengan menfitnah, mempolitisir dan mengadudomba demi mendapatkan target jabatanku.
Aku telah kosongkan tanggungjawab keilmuwanku dengan menipu, nyontek, plagiat dan perbuatan sejenis itu.
Aku telah hapuskan rasa malu ku dengan memperdagangkan dengan murah etika intelektualku di ceruk-ceruk pasar kapitalis buatanku.

Andai ini Ramadhan terakhirku

Apakah masih ada alasan untuk melakukan sesuatu selain karena-Mu...
Melihat benda-benda karena-Mu,
Mendengar suara-suara karena-Mu,
Bicara kata-kata karena-Mu,
Makan dan minum karena-Mu.
Dan…tiada alasan lain dalam hidupku di Ramadhan ini selain karena-Mu.

Ya Allah, andai ini Ramadhan terakhirku

Bisakah Ramadhan ini mampu menghapus bergunung dosaku kepada-Mu"

Selasa, 04 Agustus 2009

no thing,.

ternyata sepanjang bulan July tak satu kata pun tertulis
tiada karya apa-apa yang tercipta
kemana saja perginya waktuku
apa yang telah aku dapatkan seiring pergantian waktu
semoga inspirasi tersebut muncul kembali